OBAMA: KEHEBATAN GURU SD INDONESIA
Oleh: Supiyatna
Dunia pendidikan di Indonesia patut kiranya membusungkan dada atas capaian yang sekarang sudah terbukti di dunia ini, dalam totem Pro Parte. Apalagi penguatan tersebut dihargai dalam UU dan PP yang telah memperhatikan kaum guru walaupun banyak pro dan kontra di negeri ini. Dengan legalitas ini memberikan harapan baru bagi dunia profesi ini yang sebelumnya yang dipandang sebelah mata kiri. Cukup ‘dihadiahi’ Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, tanpa gelar ‘anumerta’ ketika meninggal.
Membicarakan sosok guru berarti membanggakan samudra ilmu yang dikuasainya. Sekedar mengingatkan dalam dunia pewayangan, seorang Adipati Karna sampai menyembah Begawan Dorna karena ingin menguasai Ilmu memanah selevel Arjuna. Dalam ajaran agama apa pun sosok guru begitu mulia, dijunjung oleh sang murid.
Seorang guru tak pernah menghitung berapa uang per jam yang dia dapatkan ketika mendidik dan membimbing anak didiknya. Kalau pun ada hanya uang per jam ketika dia mentransfer ilmu. Kalau pun ada selain itu, tentunya akan patut ditanyakan Ada apa (dibalik itu) dengan guru itu? Di sini kehebatan seorang guru dibandingkan dengan profesi lain!
Menonton, menyimak dan menghayati pidato di istana dan kuliah umum Obama. Kami katakan: Wow, Dominasi ajaran guru Indonesia yang memberikan inspirasi yes we can-nya. Bukan tidak mungkin pula telah menyihir voter Amerika, tentunya pemilih di sana tidak mudah diiming-imingi duit 100 ribu.
Guru-guru SD Fransiskus Asisi, Jakarta Selatan dan SDN Besuki Menteng, Jakarta pusat, hebat! Hebat pula Guru SD Indonesia! Mereka telah membentuk sosok ke dalam benak otak, ucap dan tindakan Obama. Harapan paling didambakan dan kebanggaan bagi seorang guru adalah keberhasilan siswa-siswinya. Melebihi segalanya. Wajar saja jika Ibu Israella Pareira,Ibu Cicilia Sugini, Ibu Fermina Sinaga, Pak Effendi dan guru-guru Obama di SD Asisi dan Besuki mengatakan “siapa dulu gurunya…..”
Hebatnya ObamaMembicarakan sosok guru berarti membanggakan samudra ilmu yang dikuasainya. Sekedar mengingatkan dalam dunia pewayangan, seorang Adipati Karna sampai menyembah Begawan Dorna karena ingin menguasai Ilmu memanah selevel Arjuna. Dalam ajaran agama apa pun sosok guru begitu mulia, dijunjung oleh sang murid.
Seorang guru tak pernah menghitung berapa uang per jam yang dia dapatkan ketika mendidik dan membimbing anak didiknya. Kalau pun ada hanya uang per jam ketika dia mentransfer ilmu. Kalau pun ada selain itu, tentunya akan patut ditanyakan Ada apa (dibalik itu) dengan guru itu? Di sini kehebatan seorang guru dibandingkan dengan profesi lain!
Menonton, menyimak dan menghayati pidato di istana dan kuliah umum Obama. Kami katakan: Wow, Dominasi ajaran guru Indonesia yang memberikan inspirasi yes we can-nya. Bukan tidak mungkin pula telah menyihir voter Amerika, tentunya pemilih di sana tidak mudah diiming-imingi duit 100 ribu.
Guru-guru SD Fransiskus Asisi, Jakarta Selatan dan SDN Besuki Menteng, Jakarta pusat, hebat! Hebat pula Guru SD Indonesia! Mereka telah membentuk sosok ke dalam benak otak, ucap dan tindakan Obama. Harapan paling didambakan dan kebanggaan bagi seorang guru adalah keberhasilan siswa-siswinya. Melebihi segalanya. Wajar saja jika Ibu Israella Pareira,Ibu Cicilia Sugini, Ibu Fermina Sinaga, Pak Effendi dan guru-guru Obama di SD Asisi dan Besuki mengatakan “siapa dulu gurunya…..”
Dari rentetan hidup Obama dia terlahir broken home (ibunya bercerai dengan ayahnya tahun 1963 ketika berumur 2 tahun). Ditinggal ayah kandung sejak umur 5 tahun. Ayah Obama memiliki istri 4 (2 kulit putih, 2 kulit hitam Afrika) dan memiliki anak 8 dari ke-4 istri (Obama anak ke-4 dari perempuan kedua yang dinikahi ayahnya).
Mengikuti Ayah tirinya ke Indonesia tahun 1967-1971. Pindah sekolah di tingkat V di sekolah Favorit, Punahou School. Kuliah di Universitas Columbia mendapatkan gelar B.A (1983) kemudian sekolah hukum di Harvard University. Hingga mendapatkan gelar Juris Doctor, dengan magna cum laude, tahun 1991. Yang mengesankan, dialah orang Amerika keturunan Afrika pertama yang menjadi presiden pada Harvard Law Review.
Kreativitasnya telah menghasilkan 8 Buah buku. Salah satunya ditulis sewaktu dia menetap di Bali selama sebulan, yakni buku berjudul Dreams from My Father. Dari royalti ($ 4.200.000) buku-bukunya inilah dia maju menjadi seorang senator kemudian presiden Amerika serikat.
Suatu fenomenalogis kemenangannya ketika berhadapan dengan rekan separtainya dengan perolehan suara sebanyak 2.156, sementara Hillary mengumpulkan 1.923 delegasi. Dia mampu mengumpulkan uang sebanyak $ 600 juta untuk membeli setengah jam siaran di 7 pemancar TV untuk kampanyenya diseluruh Ameriak Serikat. Yang kemudian menjadi modal dapat menekuk lawan parpolnya, Jhon McCain pada pemilihan presidan Amerika Serikat dengan mengumpulkan 53% suara rakyat dan berbagai pemilihan perguruan margin.
Satu lagi yang membuat saya angkat topi tentang kejujuran kehidupan pribadi Obama semasa SMA, dengan jujur diakui dalam Dreams From My Father : A Story of Race And Inheritance bahwa dia pernah mencoba drugs, Marijuana dan Kokain. Sisi negatif dalam bingkai alat ukur kejujuran, yang tidak pernah diungkap dalam catatan sejarah hidup presiden bahkan pemimpin daerah di negeri ini. Sisi kelam ini akan membangkitkan semangat anak korban tersebut, untuk menjadi orang hebat di kampung halamannya.
Dia mampu melewati masa sulit ini dengan mengubahnya menjadi sebuah keberhasilan hidup yang jarang dimiliki oleh manusia saat ini dengan karya dan tindakan yang gemilang. Kesan yang mendalam sewaktu tinggal di Jakarta, sang ibu (Ann Dunham) mendidik “supaya Obama menaruh hormat terhadap orang-orang Indonesia dan budaya mereka dan jangan sampai berpikir bahwa dia adalah superior (lebih unggul) daripada orang-orang Indonesia”.
Indonesia pernah Memiliki Berry Soetoro alias Barrack Hussein Obama Junior selama 4 tahun yang menjadikannya sebuah inspirasi masa depan bangsa ini. Sebagaimana sindirnya di waktu kuliah umum. Ungkapan yang patut diucapkan adalah Kita bangga sebagai bangsa melalui mulut Obama, satatment Imam Prasojo, @ Metro TV.
Kehebatan Guru SDMengikuti Ayah tirinya ke Indonesia tahun 1967-1971. Pindah sekolah di tingkat V di sekolah Favorit, Punahou School. Kuliah di Universitas Columbia mendapatkan gelar B.A (1983) kemudian sekolah hukum di Harvard University. Hingga mendapatkan gelar Juris Doctor, dengan magna cum laude, tahun 1991. Yang mengesankan, dialah orang Amerika keturunan Afrika pertama yang menjadi presiden pada Harvard Law Review.
Kreativitasnya telah menghasilkan 8 Buah buku. Salah satunya ditulis sewaktu dia menetap di Bali selama sebulan, yakni buku berjudul Dreams from My Father. Dari royalti ($ 4.200.000) buku-bukunya inilah dia maju menjadi seorang senator kemudian presiden Amerika serikat.
Suatu fenomenalogis kemenangannya ketika berhadapan dengan rekan separtainya dengan perolehan suara sebanyak 2.156, sementara Hillary mengumpulkan 1.923 delegasi. Dia mampu mengumpulkan uang sebanyak $ 600 juta untuk membeli setengah jam siaran di 7 pemancar TV untuk kampanyenya diseluruh Ameriak Serikat. Yang kemudian menjadi modal dapat menekuk lawan parpolnya, Jhon McCain pada pemilihan presidan Amerika Serikat dengan mengumpulkan 53% suara rakyat dan berbagai pemilihan perguruan margin.
Satu lagi yang membuat saya angkat topi tentang kejujuran kehidupan pribadi Obama semasa SMA, dengan jujur diakui dalam Dreams From My Father : A Story of Race And Inheritance bahwa dia pernah mencoba drugs, Marijuana dan Kokain. Sisi negatif dalam bingkai alat ukur kejujuran, yang tidak pernah diungkap dalam catatan sejarah hidup presiden bahkan pemimpin daerah di negeri ini. Sisi kelam ini akan membangkitkan semangat anak korban tersebut, untuk menjadi orang hebat di kampung halamannya.
Dia mampu melewati masa sulit ini dengan mengubahnya menjadi sebuah keberhasilan hidup yang jarang dimiliki oleh manusia saat ini dengan karya dan tindakan yang gemilang. Kesan yang mendalam sewaktu tinggal di Jakarta, sang ibu (Ann Dunham) mendidik “supaya Obama menaruh hormat terhadap orang-orang Indonesia dan budaya mereka dan jangan sampai berpikir bahwa dia adalah superior (lebih unggul) daripada orang-orang Indonesia”.
Indonesia pernah Memiliki Berry Soetoro alias Barrack Hussein Obama Junior selama 4 tahun yang menjadikannya sebuah inspirasi masa depan bangsa ini. Sebagaimana sindirnya di waktu kuliah umum. Ungkapan yang patut diucapkan adalah Kita bangga sebagai bangsa melalui mulut Obama, satatment Imam Prasojo, @ Metro TV.
Kedekatan batin antara Obama dan bangsa Indonesia menjadikan inspirasi bangsa ini terutama bagi anak Indonesia. Walau bagaimana pun bangsa ini telah membenam chipset beserta softwarenya ke dalam benak otak Presiden Adi Daya. Budaya-budaya luhur kita telah ditelannya dan dijadikan elan positif sehingga mengubahnya menjadi wajah Amerika-nya yang Berbhineka Tunggal Ika.
Sampel ini bisa menjadi inspirasi penduduk Negara Adi Kuasa untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Dasar di negeri ini. Walau bagaimanapun dari sekian banyak Presiden di dunia ini jarang sekali yang begitu supel seperti Obama, lihat saja ketika Obama menari-nari dengan anak-anak di India. Jiwa adi luhung yang tercetak dalam benak seseorang ketika kecil akan terefleksi pada wujud dewasa orang tersebut, Sigmund Freud.
Kegembiraannya dan keluasan bergaul layaknya manusia Indonesia yang tercermin dalam perilaku nenek moyang negeri ini. Hal ini bisa dibuktikan sang presiden muda ketika izin kepada Presiden SBY lantas menyalami Megawati Soekarno Putri. Seolah-olah contoh budi pekerti dan Pancasila tercetak kuatnya dalam pola fikir dan tindakan Obama. Tak lain dan Tak bukan, inilah KESEJATIAN PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH DASAR DI INDONESIA: yang tercermin dalam tut wuri handayani ingarso sung tulodo ing madyo mangun karso.
Dalam beberapa literature Islam telah jelas, Syaidina Ali RA mengatakan belajar di waktu kecil bagai menulis di atas batu. Obama tidak akan mengelak akan hal itu tampak pada petikan kuliahnya: ”Yang paling saya kenangkan adalah orang-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; anak-anak yang membuat seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga; dan guru-guru yang mengajarkan keluasan dunia.”
Betapa pantulan ini sebuah kehebatan guru sekolah dasar di Indonesia. Pencetak dasar cara berfikir generasi mendatang. Pemikiran para cerdik cendikia baik dari dalam maupun dari luar yang mengenyam pendidikan dasar di Indonesia. Jika maindset Obama tidak berbeda ketika dia sudah menjadi tokoh. Dan kalau kebobrokan terjadi pada salah satu oknum yang melakukan penyimpangan maka perlu dipertanyakan pula pendidikan keluarga, lingkungan dan pendidikan dasarnya.
Maka ketika terjadi kesalahurusan tentang pendidikan dasar di negeri ini efeknya adalah keluluhlantakan generasi yang hidup di masa akan datang. Artinya, penelantaran nasib guru pendidikan dasar berarti ‘membunuh’ pelan-pelan nasib bangsa ini di kemudian hari.
Sebuah joke dari Jusuf Kala (http://umum.kompasiana.com/2009/06/04/wajah-baru-dunia-pendidikan-kita) ketika ditanya wartawan Amerika mengenai pendidikan kita, ujarnya, “bayangkan, lulusan SD saja di negara kami bisa menjadi Presiden di Negara anda, coba mana ada lulusan SD dari negara anda yang menjadi presiden di negara kami ?” Kebanggaan ini yang terus memicu dan memacu kita untuk membenahi sistem pendidikan Dasar kita, khususnya. Dan umumnya, pendidikan berikutnya.
Kehebatan guru SD ini bukan untuk dijadikan euforia. Tetapi sesuatu yang perlu ditindaklanjuti oleh rekan guru SD, layaknya Bu Israelia Pareira yang menanyakan cita-cita Obama di waktu kecil kemudian menanamtumbuhkembangkan menjadi semangat yang berkobar-kobar hingga tergenggam cita-cita siswa. Semangat bercita-cita inilah yang terus-menerus diingatkan dan dipertanyakan di sekolah berikutnya.###
Sampel ini bisa menjadi inspirasi penduduk Negara Adi Kuasa untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Dasar di negeri ini. Walau bagaimanapun dari sekian banyak Presiden di dunia ini jarang sekali yang begitu supel seperti Obama, lihat saja ketika Obama menari-nari dengan anak-anak di India. Jiwa adi luhung yang tercetak dalam benak seseorang ketika kecil akan terefleksi pada wujud dewasa orang tersebut, Sigmund Freud.
Kegembiraannya dan keluasan bergaul layaknya manusia Indonesia yang tercermin dalam perilaku nenek moyang negeri ini. Hal ini bisa dibuktikan sang presiden muda ketika izin kepada Presiden SBY lantas menyalami Megawati Soekarno Putri. Seolah-olah contoh budi pekerti dan Pancasila tercetak kuatnya dalam pola fikir dan tindakan Obama. Tak lain dan Tak bukan, inilah KESEJATIAN PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH DASAR DI INDONESIA: yang tercermin dalam tut wuri handayani ingarso sung tulodo ing madyo mangun karso.
Dalam beberapa literature Islam telah jelas, Syaidina Ali RA mengatakan belajar di waktu kecil bagai menulis di atas batu. Obama tidak akan mengelak akan hal itu tampak pada petikan kuliahnya: ”Yang paling saya kenangkan adalah orang-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; anak-anak yang membuat seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga; dan guru-guru yang mengajarkan keluasan dunia.”
Betapa pantulan ini sebuah kehebatan guru sekolah dasar di Indonesia. Pencetak dasar cara berfikir generasi mendatang. Pemikiran para cerdik cendikia baik dari dalam maupun dari luar yang mengenyam pendidikan dasar di Indonesia. Jika maindset Obama tidak berbeda ketika dia sudah menjadi tokoh. Dan kalau kebobrokan terjadi pada salah satu oknum yang melakukan penyimpangan maka perlu dipertanyakan pula pendidikan keluarga, lingkungan dan pendidikan dasarnya.
Maka ketika terjadi kesalahurusan tentang pendidikan dasar di negeri ini efeknya adalah keluluhlantakan generasi yang hidup di masa akan datang. Artinya, penelantaran nasib guru pendidikan dasar berarti ‘membunuh’ pelan-pelan nasib bangsa ini di kemudian hari.
Sebuah joke dari Jusuf Kala (http://umum.kompasiana.com/2009/06/04/wajah-baru-dunia-pendidikan-kita) ketika ditanya wartawan Amerika mengenai pendidikan kita, ujarnya, “bayangkan, lulusan SD saja di negara kami bisa menjadi Presiden di Negara anda, coba mana ada lulusan SD dari negara anda yang menjadi presiden di negara kami ?” Kebanggaan ini yang terus memicu dan memacu kita untuk membenahi sistem pendidikan Dasar kita, khususnya. Dan umumnya, pendidikan berikutnya.
Kehebatan guru SD ini bukan untuk dijadikan euforia. Tetapi sesuatu yang perlu ditindaklanjuti oleh rekan guru SD, layaknya Bu Israelia Pareira yang menanyakan cita-cita Obama di waktu kecil kemudian menanamtumbuhkembangkan menjadi semangat yang berkobar-kobar hingga tergenggam cita-cita siswa. Semangat bercita-cita inilah yang terus-menerus diingatkan dan dipertanyakan di sekolah berikutnya.###
Penulis:
Praktisi Pendidikan
(Forum Diskusi Masyarakat Tangerang Barat)
Pernah dimuat dalam Harian Satelitnews (16 Nov 2010)
Praktisi Pendidikan
(Forum Diskusi Masyarakat Tangerang Barat)
Pernah dimuat dalam Harian Satelitnews (16 Nov 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Anda Komentari Tanpa Paksaan