Surat dari Penguntitku ini, kutulis dan kubaca ulang:
Wah jika ini tidak disegerakan maka ada yang mau 'menggeureum.' Ada yang mau memblacklish. Dan ada yang akan mengecap negatif, ayah.
Perkataan dalam diskusi:
"Apakah mereka tidak tahu atau memang tidak mau tahu? Lantas apakah mereka menganggap ini sengaja untuk tidak dimainkan. Kalau begitu, kita tagih janji mereka!"
Banyak mereka yang menghembuskan bahwa Isi kantongnya belum cukup! Ehm, jangan salah mereka hanya berbicara saja, sebab kami pun bukan anak kecil ketika merengek minta dibelikan permen, terus dikatai es nya sudah habis! Lantas kami berhenti menangis.
KAMI MENJAWAB: KAMI ANAK CERDAS, KAMI BISA MEMBACA DAN MENULIS, MENDENGAR DAN BERBICARA. KAMI TAHU POTENSI DIRI. BAHKAN JIKA KAMI DIBUANG KE TENGAH HUTAN SEKALIPUN KAMI AKAN TETAP SURVIVE....!
Justru ketika kami dikembangkan mereka lah yang kurang cerdas. Mereka hanya bisa berhitung 1 + 1 = 2. Padahal mereka dulu lahir dari 1 + 1 = (bisa) 10 bahkan lebih... Sekali lagi kami akan bertanya kami akan diluluskan atau tidak? Sedangkan kami sudah ditugasi dan dikeloni selama 4 tahun. Bukan waktu singkat, kan? Kami sudah menempuh pendidikan plus. Diuji, Dihina, bahkan rekan kami ada yang dianggap gila.
Kami faham dan mengerti bahwa perjalanan ini tidak sampai di sini. seperti kebanyakan orang-orang besar di dunia ini. Mereka belajar dengan tekun dan berproses. Tentunya jalan yang ditempuh harus normatif tetapi jika sudah terlalu lama. Kami juga akan nyanyi lagu syahrini sama-sama:
Kau yang telah memilih aku
Kau juga yang sakiti aku
Kau pun tlah cerita sehingga aku yang salah
kau selalu permainkan 'wanita'
kau ciptakan lagu tentang 'cinta'
hingga semua tahu kau makhluk sempurna.....
Wah jika ini tidak disegerakan maka ada yang mau 'menggeureum.' Ada yang mau memblacklish. Dan ada yang akan mengecap negatif, ayah.
Perkataan dalam diskusi:
"Apakah mereka tidak tahu atau memang tidak mau tahu? Lantas apakah mereka menganggap ini sengaja untuk tidak dimainkan. Kalau begitu, kita tagih janji mereka!"
Banyak mereka yang menghembuskan bahwa Isi kantongnya belum cukup! Ehm, jangan salah mereka hanya berbicara saja, sebab kami pun bukan anak kecil ketika merengek minta dibelikan permen, terus dikatai es nya sudah habis! Lantas kami berhenti menangis.
KAMI MENJAWAB: KAMI ANAK CERDAS, KAMI BISA MEMBACA DAN MENULIS, MENDENGAR DAN BERBICARA. KAMI TAHU POTENSI DIRI. BAHKAN JIKA KAMI DIBUANG KE TENGAH HUTAN SEKALIPUN KAMI AKAN TETAP SURVIVE....!
Justru ketika kami dikembangkan mereka lah yang kurang cerdas. Mereka hanya bisa berhitung 1 + 1 = 2. Padahal mereka dulu lahir dari 1 + 1 = (bisa) 10 bahkan lebih... Sekali lagi kami akan bertanya kami akan diluluskan atau tidak? Sedangkan kami sudah ditugasi dan dikeloni selama 4 tahun. Bukan waktu singkat, kan? Kami sudah menempuh pendidikan plus. Diuji, Dihina, bahkan rekan kami ada yang dianggap gila.
Kami faham dan mengerti bahwa perjalanan ini tidak sampai di sini. seperti kebanyakan orang-orang besar di dunia ini. Mereka belajar dengan tekun dan berproses. Tentunya jalan yang ditempuh harus normatif tetapi jika sudah terlalu lama. Kami juga akan nyanyi lagu syahrini sama-sama:
Kau yang telah memilih aku
Kau juga yang sakiti aku
Kau pun tlah cerita sehingga aku yang salah
kau selalu permainkan 'wanita'
kau ciptakan lagu tentang 'cinta'
hingga semua tahu kau makhluk sempurna.....